Selamat Datang Sahabat Cemerlang

Rumah Belajar Cemerlang

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Rumah Belajar Cemerlang

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Rumah Belajar Cemerlang

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Rumah Belajar Cemerlang

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Rumah Belajar Cemerlang

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Monday, 9 January 2017

Wanita Surga

Pada dasarnya, wanita adalah makhluk sempurna yang Allah ciptakan. Masih ingatkah cerita Nabi Adam a.s yang kala itu hidup sendirian disurga dan merasa kesepian? Kemudian Allah menciptakan wanita dari tulang rusuknya untuk menemaninya sebagai pelengkap hidup agar tidak kesepian yaitu  Siti Hawa.

Berbicara mengenai wanita, adalah sesuatu yang berharga yang tentu tak mudah dimiliki. Seperti halnya berlian yang didapat setelah melalui suhu dan tekanan yang sangat tinggi. Seperti juga intan mutiara dari dasar laut yang tersembunyi.
Wanita bagaikan sebuah karya seni yang maha Indahnya. Keindahannya terpancar dari segala sisi. Dari matanya terpancar harapan di masa mendatang, dari bibirnya terucap perkataan lembut yang meneduhkan, dari tangannya tumbuh benih yang akan bermekaran, dan dari rahimnya lahir generasi penerus perjuangan. Begitu istimewanya wanita sehingga ia menjadi seorang yang mulia.
Ketika masih kecil, ia membuka pintu surga bagi ayahnya. Ketika dewasa, ia menyempurnakan separuh agama dari suaminya. Ketika menjadi ibu, surga berada di telapak kakinya. Allah pun mengangkat derajat seorang wanita 3x lebih besar dibandingkan dnegan pria kala menjadi seorang ibu.

Tunduknya pada orang tua dan suaminya kelak bukanlah pertanda diri yang lemah nan tak berdaya. Justru itulah kekuatan terbesarnya, yaitu mengalahkan ego demi patuh pada penciptanya.

Dia wanita berhati mulia penghuni surga..
Membuat para Bidadari Surga Cemburu Kepadamu

Hadits yang menggambarkan tentang keindahan dan keanggunan Wanita penghuni Surga :
Ia adalah seorang gadis yg lagi ranum- ranumnya. seorang istri yg suci, wajahnya putih dan cantik jelita, matanya jeli, sangat indah rupawan. Hidungnya indah dan lembut. Pipinya mulus, bersih, dan ranum kemerah- merahan. Giginya bagaikan keindahan intan mutu manikam. Mulutnya sangat manis dan senyumannya memancarkan cahaya. Suara dan nyanyiannya sangat merdu. Rambutnya hitam legam berkilauan bagaikan sayap burung Nasar dengan aroma harum semerbak. Lehernya halus, dadanya bidang dan bening, buah dadanya padat. Pinggang dan perutnya indah. Dan hatinya menjadi cermin bagi suaminya".

“Pergelangan tangan, telapak tangan, dan cincinnya sangat lembut. Selalu berada dalam keamanan dan ketenangan, selalu rela dan cinta, senantiasa menetap dan mendampingi, selalu memuji lagi menyambut. Betisnya begitu bening, tumitnya putih mulus, kedudukannya tinggi, berlimpah cinta, sebaya dan sama. Benar- benar suci dan sebelumnya tidak pernah disentuh oleh manusia maupun Jin, luput (terbebas) dari akhlak tercela”. “Bidadari adalah wanita yang disucikan, dan pada saat yang sama ia selalu berada dalam keperawanan, tidak membosankan suami dan selalu memuaskan”. Sangat terjaga, laksana mutiara yang tersimpan dengan baik.
Allah berfirman : “Sesungguhnya kami menciptakan mereka (para Bidadari) dengan langsung (Q.S Al Waqi’ah : 35). "Seakan- akan Bidadari itu permata yaqut dan marjan (Q.S Ar Rahmaan : 70).

 Ia (penghuni surga) melihat wajahnya sendiri melalui pipi bidadari yang lebih bening daripada cermin". Kebeningannya seperti kebeningan mutiara di kedalaman lautan, yg tidak pernah tersentuh tangan manusia. Tubuhnya wangi dan bercahaya. Rasulullah bersabda, "Jika salah seorang dari bidadari surga menampakkan diri ke bumi, niscaya akan bercahaya antara bumi dan langit dan niscaya antara bumi dan langit itu dipenuhi dengan aroma wangi. Dan kerudung bidadari surga saja sudah lebih baik daripada dunia dan segala isinya." (H.R Bukhari).

MasyaAllah… Sungguh makhluk yang sangat indah dan menabjubkan. Ada hadits lain yang menyebutkan bahwa : ‘Sebaik- baiknya perhiasan adalah wanita sholikhah’. Saya yakin para kaum hawa merasa lega setelah mendengar hadits tersebut.

Ummu Salamah radhiyallahu‘anha pernah bertanya kepada Rosul, “Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli.?” Beliau menjawab, “Wanita- wanita dunia lebih utama daripada bidadari- bidadari yang bermata jeli, seperti kelebihan apa yang tampak daripada apa yang tidak tampak.” Saya bertanya, “Mengapa wanita dunia lebih utama daripada mereka?” Beliau menjawab, “Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah.

Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kuningan, sanggulnya mutiara dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, ‘Kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali, kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali, kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya’. MasyaAllah… Sungguh dialog yang sangat indah. Jika kalimat tersebut dikutip, tentu banyak kaum Adam yang akan bertekuk lutut.

Dari dialog Rosulullah tsb, dapat disimpulkan bahwa : sebaik- baiknya Bidadari Syurga, tetap lebih baik wanita yang sholikah. Dengan kata lain, ‘Bidadari yang terindah adalah wanita sholikhah’. 

Sungguh betapa mulianya seorang muslimah yang senantiasa menjaga ibadah dan akhlaknya, senantiasa menjaga keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah. Yang tatkala cobaan dan ujian menimpa, hanya kesabaran dan keikhlasan yang ia tunjukkan. Di saat gemerlap dunia kian dahsyat menerpa, ia tetap teguh mempertahankan keimanannya. Ia bisa menjadi penyejuk hati bagi orang-orang di sekitarnya. Dan ‘Bidadari Syurga pun Cemburu kepada Mereka’ karena keimanan dan kemuliaannya. Wanita dunia sholikhah, yang kelak akan menjadi bidadari- bidadari surga yang begitu indah.

Semoga artikel ini dapat membuka sedikit, dari banyaknya rahasia- rahasia ilmu Allah yang belum terungkap. Dan menjadi motivasi bagi kita untuk selalu mendekatkan diri kepadaNya. Amiin… Serta dapat memberikan pilihan kepada kaum Adam, ‘Manakah yang kamu pilih, Bidadari Surga atau Bidadari Terindah (wanita sholikhah).? Dan memberikan tantangan kepada kaum Hawa, ‘Mampukah kalian membuat agar Bidadari Surga Cemburu Kepadamu..?’

Sunday, 8 January 2017

Subhanallah, Ibu ini Membawa Anaknya Sukses Tanpa Sekolah Formal!!

real picture Septi Peni Wulandani Family's
Tiga anaknya tidak sekolah di sekolah formal layaknya anak-anak pada umumnya.
Tapi ketiganya mampu menjadi anak teladan, dua di antaranya sudah kuliah di luar negeri di usia yang masih sangat muda. Saya cuma berdecak gemetar mendengarnya.

Bagaimana bisa?

Namanya Ibu Septi Peni Wulandani.
Kalau kita search nama ini di google, kalian akan tahu bahwa Ibu ini dikenal sebagai Kartini masa kini. Beliau seorang ibu rumah tangga profesional, penemu model hitung jaritmatika, juga seorang wanita yang amat peduli pada nasib ibu-ibu di Indonesia.

Seorang wanita yang ingin mengajak wanita Indonesia kembali ke fitrahnya sebagai wanita seutuhnya. Beliau bercerita kiprahnya sebagai ibu rumah tangga yang mendidik tiga anaknya dengan cara yang bahasa kerennya anti mainstream.

It’s like watching 3 Idiots. But this is not a film.
This is a real story from Salatiga, Indonesia.
Semuanya berawal saat beliau memutuskan untuk menikah. Jika ada pepatah yang mengatakan bahwa pernikahan adalah peristiwa peradaban, untuk kisah Ibu Septi, pepatah itu tepat sekali.

Di usianya yang masih 20 tahun, Ibu Septi sudah lulus dan
mendapat SK sebagai PNS. Di saat yang bersamaan, beliau
dilamar oleh seseorang. Beliau memilih untuk menikah, menerima lamaran tersebut.

Namun sang calon suami mengajukan persyaratan: beliau ingin yang mendidik anak-anaknya kelak hanyalah ibu kandungnya.

Artinya?
Beliau ingin istrinya menjadi seorang ibu rumah tangga. Harapan untuk menjadi PNS itu pun pupus.

Beliau tidak mengambilnya.
Ibu Septi memilih menjadi ibu rumah tangga. Baru sampai cerita ini saja saya sudah gemeteran. Akhirnya beliaupun menikah. Pernikahan yang unik. Sepasang suami istri ini sepakat untuk menutup semua gelar yang mereka dapat ketika kuliah. Aksi ini sempat diprotes oleh orang tua, bahkan di undangan pernikahan mereka pun tidak ada tambahan titel/ gelar di sebelah nama mereka.

Keduanya sepakat bahwa setelah menikah mereka akan
memulai kuliah di universitas kehidupan. Mereka akan belajar dari mana saja. Pasangan ini bahkan sering ikut berbagai kuliah umum di berbagai kampus untuk mencari ilmu. Gelar yang mereka kejar adalah gelar almarhum dan almarhumah.
Subhanallah......Tentu saja tujuan mereka adalah khusnul
khatimah.

Sampai di sini, sudah kebayang kan bahwa pasangan
ini akan mencipta keluarga yang keren?Ya, keluarga ini makin keren ketika sudah ada anak-anak hadir melengkapi kehidupan keluarga.

Dalam mendidik anak, Ibu Septi menceritakan salah satu prinsip dalam parenting adalah demokratis, merdekakan apa keinginan anak-anak. Begitupun untuk urusan sekolah. Orang tua sebaiknya memberikan alternatif terbaik lalu biarkan anak yang memilih.
Ibu Septi memberikan beberapa pilihan sekolah untuk anaknya:
mau sekolah favorit A? Sekolah alam? Sekolah bla bla bla. Atau tidak sekolah? Dan wow, anak-anaknya memilih untuk tidak sekolah. Tidak sekolah bukan berarti tidak mencari ilmu kan?

Ibu Septi dan keluarga punya prinsip: Selama Allah dan Rasul tidak marah, berarti boleh. Yang diperintahkan Allah dan Rasul adalah agar manusia mencari ilmu. Mencari ilmu tidak melulu melalui sekolah kan? Uniknya, setiap anak harus punya project yang harus dijalani sejak usia 9 tahun. Dan hasilnya?
real picture anak Ibu Septi Peni Wulandani.
Enes, anak pertama. Ia begitu peduli terhadap lingkungan,
punya banyak project peduli lingkungan, memperoleh
penghargaan dari Ashoka, masuk koran berkali-kali. Saat ini usianya 17 tahun dan sedang menyelesaikan studi S1nya di Singapura. Ia kuliah setelah SMP, tanpa ijazah. Modal
presentasi. Ia kuliah dengan biaya sendiri bermodal menjadi seorang financial analyst. Bla bla bla banyak lagi. Keren banget.
Saat kuliah di tahun pertama ia sempat minta dibiayai orang tua, namun ia berjanji akan menggantinya dengan sebuah perusahaan. Subhanallah. Uang dari orang tuanya tidak ia gunakan, ia memilih menjual makanan door to door sambil mengajar anak-anak untuk membiayai kuliahnya

Ara, anak ke-2. Ia sangat suka minum susu dan tidak bisa hidup tanpa susu. Karena itu, ia kemudian berternak sapi. Pada usianya yang masih 10 tahun, Ara sudah menjadi pebisnis sapi yang mengelola lebih dari 5000 sapi. Bisnisnya ini konon turut membangun suatu desa. WOW! Sepuluh tahun gue masih ngapain?
Dan setelah kemarin kepo, Ara ternyata saat ini juga tengah kuliah di Singapura menyusul sang kakak.

Elan, si bungsu pecinta robot. Usianya
masih amat belia. Ia menciptakan robot dari sampah. Ia percaya bahwa anak-anak Indonesia sebenarnya bisa membuat robotnya sendiri dan bisa menjadi kreatif. Saat ini, ia tengah mencari investor dan terus berkampanye untuk inovasi robotnya yang terbuat dari sampah.

Keren!! Saya cuma menunduk, what I’ve done until my 20.
Banyak juga peserta yang lalu bertanya, “kenapa cuma 3, Bu?”hehe.

Dari cerita Ibu Septi sore itu, saya menyimpulkan beberapa
rahasia kecil yang dimiliki keluarga ini, yaitu:

1. Anak-anak adalah jiwa yang merdeka, bersikap demokrati kepada mereka adalah suatu keniscayaan

2. Anak-anak sudah diajarkan tanggung jawab dan praktek
nyata sejak kecil melalui project. Seperti yang saya bilang tadi, di usia 9 tahun, anak-anak Ibu Septi sudah diwajibkan untuk punya project yang wajib dilaksanakan. Mereka wajib presentasi kepada orang tua setiap minggu tentang project tersebut.

3. Meja makan adalah sarana untuk diskusi. Di sana mereka akan membicarakan tentang ‘kami’, tentang mereka saja, seperti sudah sukses apa? Mau sukses apa? Kesalahan apa yang dilakukan? Oh ya, keluarga ini juga punya prinsip, “kita boleh salah, yang tidak boleh itu adalah tidak belajar dari kesalahan tersebut”. Bahkan mereka punya waktu untuk merayakan kesalahan yang disebut dengan “false celebration”.

4. Rasulullah SAW sebagai role model. Kisah-kisah Rasul diulas.
Pada usia sekian Rasul sudah bisa begini, maka di usia sekian berarti kita juga harus begitu. Karena alasan ini pula Enes memutuskan untuk kuliah di Singapura, ia ingin hijrah seperti yang dicontohkan Rasulullah. Ia ingin pergi ke suatu tempat di mana ia tidak dikenal sebagai anak dari orang tuanya yang memang sudah terkenal hebat.

5. Mempunyai vision board dan vision talk. Mereka punya
gulungan mimpi yang dibawa ke mana-mana. Dalam setiap
kesempatan bertemu dengan orang-orang hebat, mereka akan share mimpi-mimpi mereka. Prinsip mimpi: Dream it, share it, do it, grow it!

6. Selalu ditanamkan bahwa belajar itu untuk mencari ilmu,
bukan untuk mencari nilai

7. Mereka punya prinsip harus jadi entrepreneur. Bahkan san ayah pun keluar dari pekerjaannya di suatu bank dan membangun berbagai bisnis bersama keluarga. Apa yang ia dapat selam bekerja ia terapkan di bisnisnya.

8. Punya cara belajar yang unik. Selain belajar dengan cara home schooling di mana Ibu sebagai pendidik, belajar dari buku dan berbagai sumber, keluarga ini punya cara belajar yang disebut Nyantrik. Nyantrik adalah proses belajar hebat dengan orang hebat. Anak-anak akan datang ke perusahaan besar dan mengajukan diri menjadi karyawan magang. Jangan tanya magang jadi apa ya, mereka magang jadi apa aja. Ngepel,membersihkan kamar mandi, apapun. Mereka pun tidak meminta gaji. Yang penting, mereka diberi waktu 15 menit untuk
berdiskusi dengan pemimpin perusahaan atau seorang yang ahli setiap hari selama magang.

9. Hal terpenting yang harus dibangun oleh sebuah keluarga adalah kesamaan visi antara suami dan istri. That’s why milih jodoh itu harus teliti. Hehe. Satu cinta belum tentu satu visi, tapi satu visi pasti satu cinta

10. Punya kurikulum yang keren, di mana fondasinya adalah
iman, akhlak, adab, dan bicara.

11. Di-handle oleh ibu kandung sebagai pendidik utama.
Ibu bertindak sebagai ibu, partner, teman, guru,
semuanya.Daaaan masih banyak lagi.

Penghargaan yang diperoleh Ibu Septi Peni Wulandani.
Sebagai aktivis sosial, mbak Septi telah memperoleh berbagai penghargaan atas kemampuan leadership dan perubahan yang dilakukannya, diantaranya adalah:
* Pemenang Danamon Award 2006 sebagai “Individu Pemberdaya Masyarakat”.
* Ashoka Fellowship 2007 sebagai “Woman of Enterpreneur”.
* Tokoh Pilihan Majalah Tempo 2007 sebagai “10 Tokoh yang Mengubah Indonesia”
* Penghargaan Menpora 2007 sebagai “20 Pemuda yang Mengukir Prestasi”.
* Nominator International Enterpreuner of the year dari Ernst and Young tahun 2007
* Ikon 2008 Majalah Gatra untuk bidang ilmu pengetahuan dan Teknologi
* Kartini Award versi majalah Kartini, 2009
Saat ini, mbak Septi mengembangkan beberapa inisiatif pendidikan dan kegiatan sosial, antara lain:
* Jarimatika, metode pembelajaran matematika.
* Abaca-baca, metode belajar membaca.
* Jari Quran, metode belajar Al Quran.
* Padepokan Lebah Putih, sekolah formal ramah anak.
* Komunitas Belajar Cantrik, komunitas para orangtua homeschooling.
* Ibu Profesional, gerakan pelatihan dan pemberdayaan para ibu.

Teman-teman yang tertarik bisa kepo twitter ibu @septipw atau gabung dan ikut kuliah online tentang keiburumahtanggaan di ibuprofesional.com.

Hhhhmmm. Gimana? Profesi ibu rumah tangga itu profesi yang keren banget bukan? Ia adalah kunci awal terbentuknya generasi brilian bangsa.

Saya ingat cerita Ibu Septi di awal kondisi beliau menjadi ibu rumah tangga. Saat itu beliau iri melihat wanita sebayanya yang berpakaian rapi pergi ke kantor sedangkan beliau hanya mengenakan daster. Jadilah beliau mengubah style-nya. Jadi Ibu rumah tangga itu keren, jadi tampilannya juga harus keren, bahkan punya kartu nama dengan profesi paling mulia:housewife.

So, masih zaman berpikiran bahwa ibu rumah tangga itu sebatas sumur, kasur, lalala yang haknya terinjak-injak dan melanggar HAM? Duh please, housewife is the most presticious career for a woman, right? Tapi semuanya tetap pilihan. Dan setiap pilihan punya konsekuensi. Jadi apapun kita, semoga tetap menjadi pendidik hebat untuk anak-anak generasi bangsa.

Dari kisah di atas, saya juga menarik kesimpulan bahwa seminar kepemudaan tidak melulu bahas tentang organisasi, isu-isu negara, dan lain-lain yang biasa dibahas. Pemuda juga perlu belajar ilmu parenting untuk bekal dalam mendidik generasi penerus bangsa ini.

Bukankah dari keluarga karakter anak itu
terbentuk? Wallahualambisshawab.


Sumber: http://www.tipspendidikananak.com/2014/11/subhanallah-ibu-ini-membawa-anaknya.html

Kisah Uwais Al Qorni Wali Tanah Yaman Sang Penghuni Langit

Di Yaman, tinggalah seorang pemuda bernama Uwais Al Qarni yang berpenyakit sopak, tubuhnya belang-belang. Walaupun cacat, ia adalah pemuda yang soleh dan sangat berbakti kepadanya Ibunya. Ibunya adalah seorang wanita tua yang lumpuh. Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan Ibunya. Hanya satu permintaan yang sulit ia kabulkan.

"Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi akan bersama dengan kamu, ikhtiarkan agar Ibu dapat mengerjakan haji," pinta Ibunya. Uwais tercenung, perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh melewati padang pasir tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Namun Uwais sangat miskin dan tak memiliki kendaraan.

Uwais terus berpikir mencari jalan keluar. Kemudian, dibelilah seeokar anak lembu, Kira-kira untuk apa anak lembu itu? Tidak mungkinkan pergi Haji naik lembu. Olala, ternyata Uwais membuatkan kandang di puncak bukit.

Setiap pagi beliau bolak balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit. "Uwais gila.. Uwais gila..." kata orang-orang. Yah, kelakuan Uwais memang sungguh aneh.

Tak pernah ada hari yang terlewatkan ia menggendong lembu naik turun bukit. Makin hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar tenaga yang diperlukan Uwais. Tetapi karena latihan tiap hari, anak lembu yang membesar itu tak terasa lagi.

Setelah 8 bulan berlalu, sampailah musim Haji. Lembu Uwais telah mencapai 100 kg, begitu juga dengan otot Uwais yang makin membesar. Ia menjadi kuat mengangkat barang. Tahulah sekarang orang-orang apa maksud Uwais menggendong lembu setiap hari. Ternyata ia latihan untuk menggendong Ibunya.
Uwais menggendong ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Mekkah! Subhanallah, alangkah besar cinta Uwais pada ibunya. Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi keinginan ibunya.

Uwais berjalan tegap menggendong ibunya tawaf di Ka'bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata telah melihat Baitullah. Di hadapan Ka'bah, ibu dan anak itu berdoa. "Ya Allah, ampuni semua dosa ibu," kata Uwais. "Bagaimana dengan dosamu?" tanya ibunya heran. Uwais menjawab, "Dengan terampunnya dosa Ibu, maka Ibu akan masuk surga. Cukuplah ridho dari Ibu yang akan membawa aku ke surga."

Subhanallah, itulah keinganan Uwais yang tulus dan penuh cinta. Allah SWT pun memberikan karunianya, Uwais seketika itu juga disembuhkan dari penyakit sopaknya. Hanya tertinggal bulatan putih ditengkuknya. Tahukah kalian apa hikmah dari bulatan disisakan di tengkuk? itulah tanda untuk Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib, dua sahabat utama Rasulullah SAW untuk mengenali Uwais.

Beliau berdua sengaja mencari Uwais di sekitar Ka'bah karena Rasullah SAW berpesan "Di zaman kamu nanti akan lahir seorang manusia yang doanya sangat makbul. Kamu berdua pergilah cari dia. Dia akan datang dari arah Yaman, dia dibesarkan di Yaman. Dia akan muncul di zaman kamu, carilah dia. Kalau berjumpa dengan dia minta tolong dia berdua untuk kamu berdua."

"Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu, durhaka pada ibu dan menolak kewajiban, dan meminta yang bukan haknya, dan membunuh anak hidup-hidup, dan Allah, membenci padamu banyak bicara, dan banyak bertanya demikian pula memboroskan harta (menghamburkan kekayaan)." (HR. Bukhari dan Muslim).

CERITA KEHIDUPAN UWAIS AL QORNI

Pemuda bernama Uwais Al-Qarni. Ia tinggal dinegeri Yaman. Uwais adalah seorang yang terkenal fakir, hidupnya sangat miskin. Uwais Al-Qarni adalah seorang anak yatim. Bapaknya sudah lama meninggal dunia. Ia hidup bersama ibunya yang telah tua lagi lumpuh. Bahkan, mata ibunya telah buta. Kecuali ibunya, Uwais tidak lagi mempunyai sanak family sama sekali.

Dalam kehidupannya sehari-hari, Uwais Al-Qarni bekerja mencari nafkah dengan menggembalakan domba-domba orang pada waktu siang hari. Upah yang diterimanya cukup buat nafkahnya dengan ibunya. Bila ada kelebihan, terkadang ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti dia dan ibunya. Demikianlah pekerjaan Uwais Al-Qarni setiap hari.

Uwais Al-Qarni terkenal sebagai seorang anak yang taat kepada ibunya dan juga taat beribadah. Uwais Al-Qarni seringkali melakukan puasa. Bila malam tiba, dia selalu berdoa, memohon petunjuk kepada Allah. Alangkah sedihnya hati Uwais Al-Qarni setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka telah bertemu dengan Nabi Muhammad, sedang ia sendiri belum pernah berjumpa dengan Rasulullah. Berita tentang Perang Uhud yang menyebabkan Nabi Muhammad mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya, telah juga didengar oleh Uwais Al-Qarni. Segera Uwais mengetok giginya dengan batu hingga patah. Hal ini dilakukannya sebagai ungkapan rasa cintanya kepada Nabi Muhammmad saw, sekalipun ia belum pernah bertemu dengan beliau. Hari demi hari berlalu, dan kerinduan Uwais untuk menemui Nabi saw semakin dalam. Hatinya selalu bertanya-tanya, kapankah ia dapat bertemu Nabi Muhammad saw dan memandang wajah beliau dari dekat? Ia rindu mendengar suara Nabi saw, kerinduan karena iman.

Tapi bukankah ia mempunyai seorang ibu yang telah tua renta dan buta, lagi pula lumpuh? Bagaimana mungkin ia tega meninggalkannya dalam keadaan yang demikian? Hatinya selalu gelisah. Siang dan malam pikirannya diliputi perasaan rindu memandang wajah nabi Muhammad saw.

Akhirnya, kerinduan kepada Nabi saw yang selama ini dipendamnya tak dapat ditahannya lagi. Pada suatu hari ia datang mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinyadan mohon ijin kepada ibunya agar ia diperkenankan pergi menemui Rasulullah di Madinah. Ibu Uwais Al-Qarni walaupun telah uzur, merasa terharu dengan ketika mendengar permohonan anaknya. Ia memaklumi perasaan Uwais Al-Qarni seraya berkata, “pergilah wahai Uwais, anakku! Temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa dengan Nabi, segeralah engkau kembali pulang.”

Betapa gembiranya hati Uwais Al-Qarni mendengar ucapan ibunya itu. Segera ia berkemas untuk berangkat. Namun, ia tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkannya, serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi. Sesudah berpamitan sembari mencium ibunya, berangkatlah Uwais Al-Qarni menuju Madinah.

Uwais Ai-Qarni Pergi ke Madinah


Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Uwais Al-Qarni sampai juga dikota madinah. Segera ia mencari rumah nabi Muhammad saw. Setelah ia menemukan rumah Nabi, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam, keluarlah seseorang seraya membalas salamnya. Segera saja Uwais Al-Qarni menanyakan Nabi saw yang ingin dijumpainya. Namun ternyata Nabi tidak berada dirumahnya, beliau sedang berada di medan pertempuran. Uwais Al-Qarni hanya dapat bertemu dengan Siti Aisyah ra, istri Nabi saw. Betapa kecewanya hati Uwais. Dari jauh ia datang untuk berjumpa langsung dengan Nabi saw, tetapi Nabi saw tidak dapat dijumpainya.

Dalam hati Uwais Al-Qarni bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi saw dari medan perang. Tapi kapankah Nabi pulang? Sedangkan masih terngiang di telinganya pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman, “engkau harus lekas pulang”.

Akhirnya, karena ketaatannya kepada ibunya, pesan ibunya mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi saw. Karena hal itu tidak mungkin, Uwais Al-Qarni dengan terpaksa pamit kepada Siti Aisyah ra untuk segera pulang kembali ke Yaman, dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi saw. Setelah itu, Uwais Al-Qarni pun segera berangkat mengayunkan langkahnya dengan perasaan amat haru.

Peperangan telah usai dan Nabi saw pulang menuju Madinah. Sesampainya di rumah, Nabi saw menanyakan kepada Siti Aisyah ra tentang orang yang mencarinya. Nabi mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni anak yang taat kepada ibunya, adalah penghuni langit. Mendengar perkataan Nabi saw, Siti Aisyah ra dan para sahabat tertegun. Menurut keterangan Siti Aisyah ra, memang benar ada yang mencari Nabi saw dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Nabi Muhammad saw melanjutkan keterangannya tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit itu, kepada para sahabatnya., “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih ditengah talapak tangannya.”

Sesudah itu Nabi saw memandang kepada Ali ra dan Umar ra seraya berkata, “suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.”

Waktu terus berganti, dan Nabi saw kemudian wafat. Kekhalifahan Abu Bakar pun telah digantikan pula oleh Umar bin Khatab. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi saw tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kembali sabda Nabi saw itu kepada sahabat Ali bin Abi Thalib ra. Sejak saat itu setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, Khalifah Umar ra dan Ali ra selalu menanyakan tentang Uwais Al Qarni, si fakir yang tak punya apa-apa itu, yang kerjanya hanya menggembalakan domba dan unta setiap hari? Mengapa khalifah Umar ra dan sahabat Nabi, Ali ra, selalu menanyakan dia?

Rombongan kalifah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais Al-Qarni turut bersama mereka. Rombongan kalifah itu pun tiba di kota Madinah. Melihat ada rombongan kalifah yang baru datang dari Yaman, segera khalifah Umar ra dan Ali ra mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais Al-Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni ada bersama mereka, dia sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, khalifah Umar ra dan Ali ra segera pergi menjumpai Uwais Al-Qarni.



Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, khalifah Umar ra dan Ali ra memberi salam. Tapi rupanya Uwais sedang shalat. Setelah mengakhiri shalatnya dengan salam, Uwais menjawab salam khalifah Umar ra dan Ali ra sambil mendekati kedua sahabat Nabi saw ini dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar ra dengan segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada di telapak tangan Uwais, seperti yang pernah dikatakan oleh Nabi saw. Memang benar! Tampaklah tanda putih di telapak tangan Uwais Al-Qarni.

Wajah Uwais Al-Qarni tampak bercahaya. Benarlah seperti sabda Nabi saw bahwa dia itu adalah penghuni langit. Khalifah Umar ra dan Ali ra menanyakan namanya, dan dijawab, “Abdullah.” Mendengar jawaban Uwais, mereka tertawa dan mengatakan, “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?” Uwais kemudian berkata, “Nama saya Uwais Al-Qarni”.

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais Al-Qarni telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali ra memohon agar Uwais membacakan do'a dan istighfar untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada Khalifah, “saya lah yang harus meminta do'a pada kalian.”

Mendengar perkataan Uwais, khalifah berkata, “Kami datang kesini untuk mohon doa dan istighfar dari anda.” Seperti yang dikatakan Rasulullah sebelum wafatnya. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais Al-Qarni akhirnya mengangkat tangan, berdoa dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar ra berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menampik dengan berkata, “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”

Fenomena Ketika Uwais Al-Qarni Wafat

Beberapa tahun kemudian, Uwais Al-Qarni berpulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan, tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana pun sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburannya, disana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.

Meninggalnya Uwais Al-Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak kenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais Al-Qarni adalah seorang fakir yang tidak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, disitu selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu.

Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya, “siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais Al-Qarni? bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir, yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya sehari-hari hanyalah sebagai penggembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamanmu.”

Berita meninggalnya Uwais Al-Qarni dan keanehan-keanehan yang terjadi ketika wafatnya telah tersebar ke mana-mana. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya, siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni. Selama ini tidak ada orang yang mengetahui siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni disebabkan permintaan Uwais Al-Qarni sendiri kepada Khalifah Umar ra dan Ali ra, agar merahasiakan tentang dia. Barulah di hari wafatnya mereka mendengar sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi saw, bahwa Uwais Al-Qarni adalah penghuni langit.

Sumber: "Cerita ini diambil dari buku '20 Kisah Sahabat dan Thabiin' terbitan Qibla karangan Ummuthoriq el khanzo."
Subhanallah


Sumber: http://www.kisahinspirasi.com/2016/06/uwais-al-qorni-penghuni-langit.html

Wednesday, 4 January 2017

Harus Tahu! Ternyata Kasih Sayang Ibu Bikin Anak Lebih Cerdas


Kamu mungkin tahu kalau ibu merupakan sosok yang tak tergantikan. Tapi kamu mungkin hanya tahu bahwa ibu tak tergantikan karena kasih sayangnya kepada anak. Nyatanya, bukan hanya itu peran ibu dalam kehidupan anak. Ada banyak manfaat yang kamu dapat dari kasih sayang seorang ibu. Salah satu manfaat yang didapat anak dari kasih sayang seorang ibu adalah otak yang lebih besar dan cerdas.

Para peneliti dari Washington University School of Medicine melihat scan otak hampir seratus anak usia 7-10 tahun untuk mengetahui potensi depresi pada anak.

Hasilnya...

Anak-anak yang mendapatkan kasih sayang dan dukungan dari ibu, memiliki hippocampus lebih besar daripada mereka yang tidak mendapat kasih sayang dari ibu.

Hippocampus adalah bagian otak yang menaungi ingatan dan kemampuan belajar, yang mana berperan dalam pengembangan akademik dan kecerdasan anak secara umum.

Profesor psikiatris anak sekaligus penulis penelitian, Joan Luby, Ph.D., mengatakan bahwa penelitian mengungkapkan betapa pentingnya lingkungan keluarga yang baik, kasih sayang dan cinta yang diberikan ibu terhadap anak-anaknya
Kasih sayang ibu tak harus berasal dari ibu biologis, meski kedekatan emosional antara ibu biologis dan anak kandung memang lebih erat.

Kita semua berhutang budi pada ibu, bukan hanya karena ia melahirkan kita ke dunia, tapi karena mereka juga membantu membentuk seperti apa diri kita. Itulah mengapa, berterima kasih pada ibu sudah jadi kewajibanmu sebagai seorang anak.


Sumber : http://www.vemale.com

Tiada Tandingan, Ini Bukti Kasih Ibu Pada Anak Tak Pernah Pudar


Sejak dalam kandungan hingga lahir dan tumbuh dewasa, kamu akan menemui banyak orang. Tapi mungkin kamu tak akan bisa menemui sosok pengganti ibu, apalagi jika ibumu adalah sosok yang sangat berpengaruh dalam setiap perjalanan hidupmu.
Kasih Ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali bagai sang surya menyinari dunia
Ibu bisa jadi sosok yang mungkin paling tahu seluk-beluk dirimu seperti apa, sekaligus yang paling bisa memberimu kritik pedas hanya karena ia ingin yang segala hal terbaik untukmu. Sekian ilustrasi dari Lifehack.org ini mungkin salah satu contohnya, bagaimana bisa kasih ibu tak ada tandingannya.
Dialah yang pertama kali mensyukuri kelahiranmu dan keberadaanmu di dunia/copyright by lifehack.org
Dia yang paling khawatir dan peduli saat kamu sakit/copyright by lifehack.org


Hingga kamu dewasa, kamu akan tetap membutuhkannya/copyright by lifehack.org
Sedari kamu masih di dalam perutnya, cintanya mengalir begitu saja tanpa henti. Bahkan saat kamu sudah beranjak dewasa, hidup terpisah dan bisa menentukan pilihan hidupmu sendiri, kamu tak akan bisa mengganti rasa sayang yang ia tuang selama ini. Jadi, masihkah kamu meragukan cintanya?




Sumber: http://www.vemale.com/
Selengkapnya: http://www.vemale.com/relationship/keluarga/100401-tiada-tandingan-ini-bukti-kasih-ibu-pada-anak-tak-pernah-pudar.html

Monday, 2 January 2017

Hidup Itu Murah, yang Bikin Mahal Itu Gengsi

Sudah sering pastinya kita mendengar anjuran dan nasihat untuk selalu mensyukuri semua hal yang kita punya. Makin banyak bersyukur makin bahagialah kita. Hidup sederhana pun bisa membuat kita tetap bahagia. Asalkan kita tak selalu termakan ego apalagi gengsi belaka.

Setuju nggak sih kalau sebenarnya yang kita butuhkan adalah hal-hal yang sesuai kebutuhan? Tak perlu berlebihan, asal semuanya cukup untuk membuat kita menjalani hari dengan baik. Cuma masalahnya karena gengsi, terkadang kita membuat hidup kita berat sendiri. Kita jadi menuntut banyak hal, sampai akhirnya kita tak pernah merasa puas dengan semua yang kita punya.

Kita Jadi Lupa Akan Prioritas Hidup Kita yang Sebenarnya
Banyak hal, target, dan prioritas penting yang terlewat. Itu semua karena kita terlalu mementingkan diri sendiri. Terlalu mendahulukan ego dan gengsi ingin melakukan hal yang sebenarnya belum terlalu penting untuk hidup kita. Seperti beli tas mahal hingga puluhan juta hanya karena tak mau dianggap dipandang rendah oleh teman kita. Padahal sebenarnya yang kita butuhkan hanyalah benda yang fungsinya memang kita butuhkan. Akibatnya, pengeluaran bisa jadi tak terduga dan prioritas untuk membayar biaya sekolah anak misalnya jadi terbengkalai.

Menuruti Gengsi Itu Tak Akan Pernah Ada Habisnya
Sesuatu yang wajar dan alamiah memang saat seseorang ingin jadi lebih baik dan lebih unggul dari lainnya. Dan seringkali karena gengsi tak mau kalah dengan orang lain, kita jadi memaksakan diri melakukan sesuatu yang di luar batas kita. Hal itu pun tak akan langsung berhenti begitu saja. Kita jadi tak mau kalah dengan orang lain. Selalu saja ingin mengungguli orang lain meski sebenarnya kapasitas kita masih belum mumpuni.

Menuruti Gengsi Membuat Kita Lupa Diri

Karena hanya ingin meniru orang lain atau tak mau kalah dengan orang lain, kita jadi mengorbankan banyak hal. kita jadi lupa diri. Lebih memilih untuk memakai topeng agar mendapat pujian daripada jadi diri sendiri. Semakin lama dibiarkan, rasa gengsi itu bisa menguasai hidup kita seutuhnya. Menelan hidup kita bulat-bulat. Hanya karena ingin terlihat keren, kita menghalalkan segala cara untuk membeli barang-barang mewah misalnya. Padahal itu nantinya akan jadi masalah yang makin besar dan tak berkesudahan sehingga jadi bencana.

Kita Jadi Lupa Apa Itu Bersyukur





Tak pernah merasa puas, selalu menuruti gengsi, hingga akhirnya jadi lupa diri. Akibatnya kita makin lupa apa itu bersyukur. Tak pernah lagi kita sengaja meluangkan waktu untuk mengucap syukur. Bahagia yang dirasa hanyalah sesuatu yang semu.

Kalau menurutmu sendiri bagaimana? Benar nggak sih gengsi lah yang membuat kita jadi susah bahagia?

Yuk, mulai sekarang kita lebih bijak lagi mengatur prioritas. Memenuhi kebutuhan kita secukupnya. Serta menjalani hari-hari sesuai dengan kemampuan kita yang terbaik.


Sumber: http://www.vemale.com/

Jika Ingin Hidup Panjang Umur, Bahagia lah Dengan Hidupmu!

Ada banyak hal yang membuat hidup seseorang panjang umur, salah satunya adalah selalu berpikiran positif dan bahagia. Banyak orang mengatakan bahwa pikiran positif membantu menjaga tubuh sehat, mencegah stres, membuat tubuhmu bergerak aktif dan bahkan enak makan. 
Penelitian ilmiah yang dilakukan Andrew Steptoe dari University College of London mendukung pernyataan tersebut. Penelitian ini melihat hubungan antara merasa bahagia dan positif dengan kemungkinan panjang umur. Dalam penelitian yang diterbitkan dalam jurnal BMJ ini, ia mengamati 10 ribu pria dan wanita di Inggris dari tahun 2002-2013.
Selama waktu tersebut, para partisipan yang kebanyakan berusia paruh baya ini diminta menjawab empat pertanyaan mengenai bagaimana mereka menikmati hidup: bersosialisasi bersama orang-orang di sekitar mereka, melakukan berbagai hal, seberapa puas dan seberapa bersemangat setiap harinya.

Hampir tujuh tahun berselang, ternyata orang-orang yang mengatakan bahwa kehidupan mereka menyenangkan (atau merasa puas dengan kehidupan yang mereka jalani) ternyata 24% lebih panjang umur dan tidak mudah sakit dibanding mereka yang mengaku tidak begitu menikmati hidup. Mereka yang mengatakan bahwa hidup mereka bahagia dari dua kategori yang ditanyakan ternyata 17% lebih tinggi memiliki hidup panjang umur.

Andrew Steptoe mengatakan, "Semakin besar orang memandang kehidupan secara positif , semakin baik kesehatan dan probabilitas mereka hidup panjang umur. Menjaga pertemanan dan hubungan sosial yang baik dengan orang lain adalah investasi yang baik bagi kesehatan fisik maupun mental seseorang ".
Banyak penelitian lain yang juga menyimpulkan hal sama. Jadi, untuk hidup panjang umur, sebenarnya tidak susah memulainya. Cukup dengan memandang kehidupan dan segala hal yang terjadi dalam hidupmu secara positif, bersyukur lebih banyak dan merasa bahagia lah, maka kamu akan hidup lebih lama, ladies.



Sumber: http://www.vemale.com/
Selengkapnya: http://www.vemale.com/body-and-mind/segar-dan-rileks/100270-jika-ingin-hidup-panjang-umur-bahagia-lah-dengan-hidupmu.html

Marahnya Ibu Pada Anak Adalah Marah Karena Sayang & Cinta

Ibu merupakan sosok yang begitu dekat dengan anak. Bisa dipastikan bahwa setiap anak lebih dekat dengan ibunya jika dibandingkan dengan ayahnya. Karena anak umumnya sangat dekat dengan ibu, ketika ibu marah rasanya dunia menjadi berbeda. Saya sih menyebutnya dunia jadi lebih hampa.
Jika ayah yang marah tidak jarang anak akan lari ke ibu dan meminta nasehat terbaiknya. Tapi, saat ibu yang sedang marah, apa yang bisa dilakukan anak? Akankah ia berlari pada sang ayah? Bagi sebagian anak mungkin akan melakukan itu, tapi bagi anak lain justru akan merasa terpuruk dan kecewa. Terlebih ketika ayah jarang di rumah dan jarang berkomunikasi dengan anak.

Sikap marah tentunya bukan suatu sikap yang baik. Tapi, memarahi anak khususnya anak yang telah menginjak remaja sesekali memang diperlukan agar anak jera dan tidak mengulangi kesalahannya. Ibu yang marah-marah terhadap anak bukan berarti jahat dengan anak. Sebaliknya, ibu yang merasa marah karena anak melakukan kesalahan menunjukkan bahwa  beliau sangat menyayangi dan mencintai anak.

Ibu yang sayang dan cinta terhadap anak-anaknya pasti tak ingin anaknya terjebak dalam suatu masalah. Ketika anak melakukan kesalahan, ibulah sosok pertama yang akan merasa sangat khawatir dan cemas. Sekali dua kali anak melakukan kesalahan, ibu mungkin akan menasehati anak dengan kata-kata yang halus dan pelukan hangat. Tapi, jika kesalahan anak dilakukan berulang kali, perlu bagi seorang ibu untuk bersikap lebih tegas dan memarahi anak.

Buat kamu yang pernah dimarahi ibu di rumah karena alasan apapun, usahakan untuk senantiasa menerima kemarahan tersebut dengan sikap sabar. Percaya saja, saat ibu memarahimu, itu adalah bukti bahwa beliau sangat menyayangi dan mencintaimu. Marahnya seorang ibu kepada anak-anaknya selalu berlandaskan alasan yang jelas. Kalau memang anak tidak salah, tidak mungkin seorang ibu akan marah-marah.

Sementara bagi kamu yang telah menjadi ibu, boleh sesekali marah kepada buah hati. Tapi ingat Mom, jangan terlalu sering memarahinya karena sikap ini bisa membuat buah hati kehilangan rasa percaya diri, terpukul dan kecewa. Buah hati yang sering kali dimarahi juga akan rentan terhadap risiko depresi. Satu lagi, marah kepada anak jangan sampai dilakukan dengan memberi hukuman fisik atau melontarkan kata-kata kasar.

Walau sikap marah adalah sikap yang membuktikan Mom begitu sayang dan cinta terhadap anak, kalau Mom bisa menekan amarah, sangat disarankan agar Mom tak pernah marah pada anak. Memperlakukan anak dengan sabar, tulus dan lemah lembut justru akan membuat mereka tumbuh serta berkembang menjadi pribadi yang kuat, percaya diri serta jujur dan lemah lembut pula. 



Sumber: http://www.vemale.com

Selengkapnya
http://www.vemale.com/relationship/keluarga/100403-marahnya-ibu-pada-anak-adalah-marah-karena-sayang-cinta.html