Selamat Datang Sahabat Cemerlang

Rumah Belajar Cemerlang

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Rumah Belajar Cemerlang

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Rumah Belajar Cemerlang

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Rumah Belajar Cemerlang

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Rumah Belajar Cemerlang

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Sunday, 8 January 2017

Subhanallah, Ibu ini Membawa Anaknya Sukses Tanpa Sekolah Formal!!

real picture Septi Peni Wulandani Family's
Tiga anaknya tidak sekolah di sekolah formal layaknya anak-anak pada umumnya.
Tapi ketiganya mampu menjadi anak teladan, dua di antaranya sudah kuliah di luar negeri di usia yang masih sangat muda. Saya cuma berdecak gemetar mendengarnya.

Bagaimana bisa?

Namanya Ibu Septi Peni Wulandani.
Kalau kita search nama ini di google, kalian akan tahu bahwa Ibu ini dikenal sebagai Kartini masa kini. Beliau seorang ibu rumah tangga profesional, penemu model hitung jaritmatika, juga seorang wanita yang amat peduli pada nasib ibu-ibu di Indonesia.

Seorang wanita yang ingin mengajak wanita Indonesia kembali ke fitrahnya sebagai wanita seutuhnya. Beliau bercerita kiprahnya sebagai ibu rumah tangga yang mendidik tiga anaknya dengan cara yang bahasa kerennya anti mainstream.

It’s like watching 3 Idiots. But this is not a film.
This is a real story from Salatiga, Indonesia.
Semuanya berawal saat beliau memutuskan untuk menikah. Jika ada pepatah yang mengatakan bahwa pernikahan adalah peristiwa peradaban, untuk kisah Ibu Septi, pepatah itu tepat sekali.

Di usianya yang masih 20 tahun, Ibu Septi sudah lulus dan
mendapat SK sebagai PNS. Di saat yang bersamaan, beliau
dilamar oleh seseorang. Beliau memilih untuk menikah, menerima lamaran tersebut.

Namun sang calon suami mengajukan persyaratan: beliau ingin yang mendidik anak-anaknya kelak hanyalah ibu kandungnya.

Artinya?
Beliau ingin istrinya menjadi seorang ibu rumah tangga. Harapan untuk menjadi PNS itu pun pupus.

Beliau tidak mengambilnya.
Ibu Septi memilih menjadi ibu rumah tangga. Baru sampai cerita ini saja saya sudah gemeteran. Akhirnya beliaupun menikah. Pernikahan yang unik. Sepasang suami istri ini sepakat untuk menutup semua gelar yang mereka dapat ketika kuliah. Aksi ini sempat diprotes oleh orang tua, bahkan di undangan pernikahan mereka pun tidak ada tambahan titel/ gelar di sebelah nama mereka.

Keduanya sepakat bahwa setelah menikah mereka akan
memulai kuliah di universitas kehidupan. Mereka akan belajar dari mana saja. Pasangan ini bahkan sering ikut berbagai kuliah umum di berbagai kampus untuk mencari ilmu. Gelar yang mereka kejar adalah gelar almarhum dan almarhumah.
Subhanallah......Tentu saja tujuan mereka adalah khusnul
khatimah.

Sampai di sini, sudah kebayang kan bahwa pasangan
ini akan mencipta keluarga yang keren?Ya, keluarga ini makin keren ketika sudah ada anak-anak hadir melengkapi kehidupan keluarga.

Dalam mendidik anak, Ibu Septi menceritakan salah satu prinsip dalam parenting adalah demokratis, merdekakan apa keinginan anak-anak. Begitupun untuk urusan sekolah. Orang tua sebaiknya memberikan alternatif terbaik lalu biarkan anak yang memilih.
Ibu Septi memberikan beberapa pilihan sekolah untuk anaknya:
mau sekolah favorit A? Sekolah alam? Sekolah bla bla bla. Atau tidak sekolah? Dan wow, anak-anaknya memilih untuk tidak sekolah. Tidak sekolah bukan berarti tidak mencari ilmu kan?

Ibu Septi dan keluarga punya prinsip: Selama Allah dan Rasul tidak marah, berarti boleh. Yang diperintahkan Allah dan Rasul adalah agar manusia mencari ilmu. Mencari ilmu tidak melulu melalui sekolah kan? Uniknya, setiap anak harus punya project yang harus dijalani sejak usia 9 tahun. Dan hasilnya?
real picture anak Ibu Septi Peni Wulandani.
Enes, anak pertama. Ia begitu peduli terhadap lingkungan,
punya banyak project peduli lingkungan, memperoleh
penghargaan dari Ashoka, masuk koran berkali-kali. Saat ini usianya 17 tahun dan sedang menyelesaikan studi S1nya di Singapura. Ia kuliah setelah SMP, tanpa ijazah. Modal
presentasi. Ia kuliah dengan biaya sendiri bermodal menjadi seorang financial analyst. Bla bla bla banyak lagi. Keren banget.
Saat kuliah di tahun pertama ia sempat minta dibiayai orang tua, namun ia berjanji akan menggantinya dengan sebuah perusahaan. Subhanallah. Uang dari orang tuanya tidak ia gunakan, ia memilih menjual makanan door to door sambil mengajar anak-anak untuk membiayai kuliahnya

Ara, anak ke-2. Ia sangat suka minum susu dan tidak bisa hidup tanpa susu. Karena itu, ia kemudian berternak sapi. Pada usianya yang masih 10 tahun, Ara sudah menjadi pebisnis sapi yang mengelola lebih dari 5000 sapi. Bisnisnya ini konon turut membangun suatu desa. WOW! Sepuluh tahun gue masih ngapain?
Dan setelah kemarin kepo, Ara ternyata saat ini juga tengah kuliah di Singapura menyusul sang kakak.

Elan, si bungsu pecinta robot. Usianya
masih amat belia. Ia menciptakan robot dari sampah. Ia percaya bahwa anak-anak Indonesia sebenarnya bisa membuat robotnya sendiri dan bisa menjadi kreatif. Saat ini, ia tengah mencari investor dan terus berkampanye untuk inovasi robotnya yang terbuat dari sampah.

Keren!! Saya cuma menunduk, what I’ve done until my 20.
Banyak juga peserta yang lalu bertanya, “kenapa cuma 3, Bu?”hehe.

Dari cerita Ibu Septi sore itu, saya menyimpulkan beberapa
rahasia kecil yang dimiliki keluarga ini, yaitu:

1. Anak-anak adalah jiwa yang merdeka, bersikap demokrati kepada mereka adalah suatu keniscayaan

2. Anak-anak sudah diajarkan tanggung jawab dan praktek
nyata sejak kecil melalui project. Seperti yang saya bilang tadi, di usia 9 tahun, anak-anak Ibu Septi sudah diwajibkan untuk punya project yang wajib dilaksanakan. Mereka wajib presentasi kepada orang tua setiap minggu tentang project tersebut.

3. Meja makan adalah sarana untuk diskusi. Di sana mereka akan membicarakan tentang ‘kami’, tentang mereka saja, seperti sudah sukses apa? Mau sukses apa? Kesalahan apa yang dilakukan? Oh ya, keluarga ini juga punya prinsip, “kita boleh salah, yang tidak boleh itu adalah tidak belajar dari kesalahan tersebut”. Bahkan mereka punya waktu untuk merayakan kesalahan yang disebut dengan “false celebration”.

4. Rasulullah SAW sebagai role model. Kisah-kisah Rasul diulas.
Pada usia sekian Rasul sudah bisa begini, maka di usia sekian berarti kita juga harus begitu. Karena alasan ini pula Enes memutuskan untuk kuliah di Singapura, ia ingin hijrah seperti yang dicontohkan Rasulullah. Ia ingin pergi ke suatu tempat di mana ia tidak dikenal sebagai anak dari orang tuanya yang memang sudah terkenal hebat.

5. Mempunyai vision board dan vision talk. Mereka punya
gulungan mimpi yang dibawa ke mana-mana. Dalam setiap
kesempatan bertemu dengan orang-orang hebat, mereka akan share mimpi-mimpi mereka. Prinsip mimpi: Dream it, share it, do it, grow it!

6. Selalu ditanamkan bahwa belajar itu untuk mencari ilmu,
bukan untuk mencari nilai

7. Mereka punya prinsip harus jadi entrepreneur. Bahkan san ayah pun keluar dari pekerjaannya di suatu bank dan membangun berbagai bisnis bersama keluarga. Apa yang ia dapat selam bekerja ia terapkan di bisnisnya.

8. Punya cara belajar yang unik. Selain belajar dengan cara home schooling di mana Ibu sebagai pendidik, belajar dari buku dan berbagai sumber, keluarga ini punya cara belajar yang disebut Nyantrik. Nyantrik adalah proses belajar hebat dengan orang hebat. Anak-anak akan datang ke perusahaan besar dan mengajukan diri menjadi karyawan magang. Jangan tanya magang jadi apa ya, mereka magang jadi apa aja. Ngepel,membersihkan kamar mandi, apapun. Mereka pun tidak meminta gaji. Yang penting, mereka diberi waktu 15 menit untuk
berdiskusi dengan pemimpin perusahaan atau seorang yang ahli setiap hari selama magang.

9. Hal terpenting yang harus dibangun oleh sebuah keluarga adalah kesamaan visi antara suami dan istri. That’s why milih jodoh itu harus teliti. Hehe. Satu cinta belum tentu satu visi, tapi satu visi pasti satu cinta

10. Punya kurikulum yang keren, di mana fondasinya adalah
iman, akhlak, adab, dan bicara.

11. Di-handle oleh ibu kandung sebagai pendidik utama.
Ibu bertindak sebagai ibu, partner, teman, guru,
semuanya.Daaaan masih banyak lagi.

Penghargaan yang diperoleh Ibu Septi Peni Wulandani.
Sebagai aktivis sosial, mbak Septi telah memperoleh berbagai penghargaan atas kemampuan leadership dan perubahan yang dilakukannya, diantaranya adalah:
* Pemenang Danamon Award 2006 sebagai “Individu Pemberdaya Masyarakat”.
* Ashoka Fellowship 2007 sebagai “Woman of Enterpreneur”.
* Tokoh Pilihan Majalah Tempo 2007 sebagai “10 Tokoh yang Mengubah Indonesia”
* Penghargaan Menpora 2007 sebagai “20 Pemuda yang Mengukir Prestasi”.
* Nominator International Enterpreuner of the year dari Ernst and Young tahun 2007
* Ikon 2008 Majalah Gatra untuk bidang ilmu pengetahuan dan Teknologi
* Kartini Award versi majalah Kartini, 2009
Saat ini, mbak Septi mengembangkan beberapa inisiatif pendidikan dan kegiatan sosial, antara lain:
* Jarimatika, metode pembelajaran matematika.
* Abaca-baca, metode belajar membaca.
* Jari Quran, metode belajar Al Quran.
* Padepokan Lebah Putih, sekolah formal ramah anak.
* Komunitas Belajar Cantrik, komunitas para orangtua homeschooling.
* Ibu Profesional, gerakan pelatihan dan pemberdayaan para ibu.

Teman-teman yang tertarik bisa kepo twitter ibu @septipw atau gabung dan ikut kuliah online tentang keiburumahtanggaan di ibuprofesional.com.

Hhhhmmm. Gimana? Profesi ibu rumah tangga itu profesi yang keren banget bukan? Ia adalah kunci awal terbentuknya generasi brilian bangsa.

Saya ingat cerita Ibu Septi di awal kondisi beliau menjadi ibu rumah tangga. Saat itu beliau iri melihat wanita sebayanya yang berpakaian rapi pergi ke kantor sedangkan beliau hanya mengenakan daster. Jadilah beliau mengubah style-nya. Jadi Ibu rumah tangga itu keren, jadi tampilannya juga harus keren, bahkan punya kartu nama dengan profesi paling mulia:housewife.

So, masih zaman berpikiran bahwa ibu rumah tangga itu sebatas sumur, kasur, lalala yang haknya terinjak-injak dan melanggar HAM? Duh please, housewife is the most presticious career for a woman, right? Tapi semuanya tetap pilihan. Dan setiap pilihan punya konsekuensi. Jadi apapun kita, semoga tetap menjadi pendidik hebat untuk anak-anak generasi bangsa.

Dari kisah di atas, saya juga menarik kesimpulan bahwa seminar kepemudaan tidak melulu bahas tentang organisasi, isu-isu negara, dan lain-lain yang biasa dibahas. Pemuda juga perlu belajar ilmu parenting untuk bekal dalam mendidik generasi penerus bangsa ini.

Bukankah dari keluarga karakter anak itu
terbentuk? Wallahualambisshawab.


Sumber: http://www.tipspendidikananak.com/2014/11/subhanallah-ibu-ini-membawa-anaknya.html

Kisah Uwais Al Qorni Wali Tanah Yaman Sang Penghuni Langit

Di Yaman, tinggalah seorang pemuda bernama Uwais Al Qarni yang berpenyakit sopak, tubuhnya belang-belang. Walaupun cacat, ia adalah pemuda yang soleh dan sangat berbakti kepadanya Ibunya. Ibunya adalah seorang wanita tua yang lumpuh. Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan Ibunya. Hanya satu permintaan yang sulit ia kabulkan.

"Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi akan bersama dengan kamu, ikhtiarkan agar Ibu dapat mengerjakan haji," pinta Ibunya. Uwais tercenung, perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh melewati padang pasir tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Namun Uwais sangat miskin dan tak memiliki kendaraan.

Uwais terus berpikir mencari jalan keluar. Kemudian, dibelilah seeokar anak lembu, Kira-kira untuk apa anak lembu itu? Tidak mungkinkan pergi Haji naik lembu. Olala, ternyata Uwais membuatkan kandang di puncak bukit.

Setiap pagi beliau bolak balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit. "Uwais gila.. Uwais gila..." kata orang-orang. Yah, kelakuan Uwais memang sungguh aneh.

Tak pernah ada hari yang terlewatkan ia menggendong lembu naik turun bukit. Makin hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar tenaga yang diperlukan Uwais. Tetapi karena latihan tiap hari, anak lembu yang membesar itu tak terasa lagi.

Setelah 8 bulan berlalu, sampailah musim Haji. Lembu Uwais telah mencapai 100 kg, begitu juga dengan otot Uwais yang makin membesar. Ia menjadi kuat mengangkat barang. Tahulah sekarang orang-orang apa maksud Uwais menggendong lembu setiap hari. Ternyata ia latihan untuk menggendong Ibunya.
Uwais menggendong ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Mekkah! Subhanallah, alangkah besar cinta Uwais pada ibunya. Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi keinginan ibunya.

Uwais berjalan tegap menggendong ibunya tawaf di Ka'bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata telah melihat Baitullah. Di hadapan Ka'bah, ibu dan anak itu berdoa. "Ya Allah, ampuni semua dosa ibu," kata Uwais. "Bagaimana dengan dosamu?" tanya ibunya heran. Uwais menjawab, "Dengan terampunnya dosa Ibu, maka Ibu akan masuk surga. Cukuplah ridho dari Ibu yang akan membawa aku ke surga."

Subhanallah, itulah keinganan Uwais yang tulus dan penuh cinta. Allah SWT pun memberikan karunianya, Uwais seketika itu juga disembuhkan dari penyakit sopaknya. Hanya tertinggal bulatan putih ditengkuknya. Tahukah kalian apa hikmah dari bulatan disisakan di tengkuk? itulah tanda untuk Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib, dua sahabat utama Rasulullah SAW untuk mengenali Uwais.

Beliau berdua sengaja mencari Uwais di sekitar Ka'bah karena Rasullah SAW berpesan "Di zaman kamu nanti akan lahir seorang manusia yang doanya sangat makbul. Kamu berdua pergilah cari dia. Dia akan datang dari arah Yaman, dia dibesarkan di Yaman. Dia akan muncul di zaman kamu, carilah dia. Kalau berjumpa dengan dia minta tolong dia berdua untuk kamu berdua."

"Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu, durhaka pada ibu dan menolak kewajiban, dan meminta yang bukan haknya, dan membunuh anak hidup-hidup, dan Allah, membenci padamu banyak bicara, dan banyak bertanya demikian pula memboroskan harta (menghamburkan kekayaan)." (HR. Bukhari dan Muslim).

CERITA KEHIDUPAN UWAIS AL QORNI

Pemuda bernama Uwais Al-Qarni. Ia tinggal dinegeri Yaman. Uwais adalah seorang yang terkenal fakir, hidupnya sangat miskin. Uwais Al-Qarni adalah seorang anak yatim. Bapaknya sudah lama meninggal dunia. Ia hidup bersama ibunya yang telah tua lagi lumpuh. Bahkan, mata ibunya telah buta. Kecuali ibunya, Uwais tidak lagi mempunyai sanak family sama sekali.

Dalam kehidupannya sehari-hari, Uwais Al-Qarni bekerja mencari nafkah dengan menggembalakan domba-domba orang pada waktu siang hari. Upah yang diterimanya cukup buat nafkahnya dengan ibunya. Bila ada kelebihan, terkadang ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti dia dan ibunya. Demikianlah pekerjaan Uwais Al-Qarni setiap hari.

Uwais Al-Qarni terkenal sebagai seorang anak yang taat kepada ibunya dan juga taat beribadah. Uwais Al-Qarni seringkali melakukan puasa. Bila malam tiba, dia selalu berdoa, memohon petunjuk kepada Allah. Alangkah sedihnya hati Uwais Al-Qarni setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka telah bertemu dengan Nabi Muhammad, sedang ia sendiri belum pernah berjumpa dengan Rasulullah. Berita tentang Perang Uhud yang menyebabkan Nabi Muhammad mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya, telah juga didengar oleh Uwais Al-Qarni. Segera Uwais mengetok giginya dengan batu hingga patah. Hal ini dilakukannya sebagai ungkapan rasa cintanya kepada Nabi Muhammmad saw, sekalipun ia belum pernah bertemu dengan beliau. Hari demi hari berlalu, dan kerinduan Uwais untuk menemui Nabi saw semakin dalam. Hatinya selalu bertanya-tanya, kapankah ia dapat bertemu Nabi Muhammad saw dan memandang wajah beliau dari dekat? Ia rindu mendengar suara Nabi saw, kerinduan karena iman.

Tapi bukankah ia mempunyai seorang ibu yang telah tua renta dan buta, lagi pula lumpuh? Bagaimana mungkin ia tega meninggalkannya dalam keadaan yang demikian? Hatinya selalu gelisah. Siang dan malam pikirannya diliputi perasaan rindu memandang wajah nabi Muhammad saw.

Akhirnya, kerinduan kepada Nabi saw yang selama ini dipendamnya tak dapat ditahannya lagi. Pada suatu hari ia datang mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinyadan mohon ijin kepada ibunya agar ia diperkenankan pergi menemui Rasulullah di Madinah. Ibu Uwais Al-Qarni walaupun telah uzur, merasa terharu dengan ketika mendengar permohonan anaknya. Ia memaklumi perasaan Uwais Al-Qarni seraya berkata, “pergilah wahai Uwais, anakku! Temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa dengan Nabi, segeralah engkau kembali pulang.”

Betapa gembiranya hati Uwais Al-Qarni mendengar ucapan ibunya itu. Segera ia berkemas untuk berangkat. Namun, ia tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkannya, serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi. Sesudah berpamitan sembari mencium ibunya, berangkatlah Uwais Al-Qarni menuju Madinah.

Uwais Ai-Qarni Pergi ke Madinah


Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Uwais Al-Qarni sampai juga dikota madinah. Segera ia mencari rumah nabi Muhammad saw. Setelah ia menemukan rumah Nabi, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam, keluarlah seseorang seraya membalas salamnya. Segera saja Uwais Al-Qarni menanyakan Nabi saw yang ingin dijumpainya. Namun ternyata Nabi tidak berada dirumahnya, beliau sedang berada di medan pertempuran. Uwais Al-Qarni hanya dapat bertemu dengan Siti Aisyah ra, istri Nabi saw. Betapa kecewanya hati Uwais. Dari jauh ia datang untuk berjumpa langsung dengan Nabi saw, tetapi Nabi saw tidak dapat dijumpainya.

Dalam hati Uwais Al-Qarni bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi saw dari medan perang. Tapi kapankah Nabi pulang? Sedangkan masih terngiang di telinganya pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman, “engkau harus lekas pulang”.

Akhirnya, karena ketaatannya kepada ibunya, pesan ibunya mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi saw. Karena hal itu tidak mungkin, Uwais Al-Qarni dengan terpaksa pamit kepada Siti Aisyah ra untuk segera pulang kembali ke Yaman, dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi saw. Setelah itu, Uwais Al-Qarni pun segera berangkat mengayunkan langkahnya dengan perasaan amat haru.

Peperangan telah usai dan Nabi saw pulang menuju Madinah. Sesampainya di rumah, Nabi saw menanyakan kepada Siti Aisyah ra tentang orang yang mencarinya. Nabi mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni anak yang taat kepada ibunya, adalah penghuni langit. Mendengar perkataan Nabi saw, Siti Aisyah ra dan para sahabat tertegun. Menurut keterangan Siti Aisyah ra, memang benar ada yang mencari Nabi saw dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Nabi Muhammad saw melanjutkan keterangannya tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit itu, kepada para sahabatnya., “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih ditengah talapak tangannya.”

Sesudah itu Nabi saw memandang kepada Ali ra dan Umar ra seraya berkata, “suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.”

Waktu terus berganti, dan Nabi saw kemudian wafat. Kekhalifahan Abu Bakar pun telah digantikan pula oleh Umar bin Khatab. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi saw tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kembali sabda Nabi saw itu kepada sahabat Ali bin Abi Thalib ra. Sejak saat itu setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, Khalifah Umar ra dan Ali ra selalu menanyakan tentang Uwais Al Qarni, si fakir yang tak punya apa-apa itu, yang kerjanya hanya menggembalakan domba dan unta setiap hari? Mengapa khalifah Umar ra dan sahabat Nabi, Ali ra, selalu menanyakan dia?

Rombongan kalifah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais Al-Qarni turut bersama mereka. Rombongan kalifah itu pun tiba di kota Madinah. Melihat ada rombongan kalifah yang baru datang dari Yaman, segera khalifah Umar ra dan Ali ra mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais Al-Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni ada bersama mereka, dia sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, khalifah Umar ra dan Ali ra segera pergi menjumpai Uwais Al-Qarni.



Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, khalifah Umar ra dan Ali ra memberi salam. Tapi rupanya Uwais sedang shalat. Setelah mengakhiri shalatnya dengan salam, Uwais menjawab salam khalifah Umar ra dan Ali ra sambil mendekati kedua sahabat Nabi saw ini dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar ra dengan segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada di telapak tangan Uwais, seperti yang pernah dikatakan oleh Nabi saw. Memang benar! Tampaklah tanda putih di telapak tangan Uwais Al-Qarni.

Wajah Uwais Al-Qarni tampak bercahaya. Benarlah seperti sabda Nabi saw bahwa dia itu adalah penghuni langit. Khalifah Umar ra dan Ali ra menanyakan namanya, dan dijawab, “Abdullah.” Mendengar jawaban Uwais, mereka tertawa dan mengatakan, “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?” Uwais kemudian berkata, “Nama saya Uwais Al-Qarni”.

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais Al-Qarni telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali ra memohon agar Uwais membacakan do'a dan istighfar untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada Khalifah, “saya lah yang harus meminta do'a pada kalian.”

Mendengar perkataan Uwais, khalifah berkata, “Kami datang kesini untuk mohon doa dan istighfar dari anda.” Seperti yang dikatakan Rasulullah sebelum wafatnya. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais Al-Qarni akhirnya mengangkat tangan, berdoa dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar ra berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menampik dengan berkata, “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”

Fenomena Ketika Uwais Al-Qarni Wafat

Beberapa tahun kemudian, Uwais Al-Qarni berpulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan, tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana pun sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburannya, disana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.

Meninggalnya Uwais Al-Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak kenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais Al-Qarni adalah seorang fakir yang tidak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, disitu selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu.

Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya, “siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais Al-Qarni? bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir, yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya sehari-hari hanyalah sebagai penggembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamanmu.”

Berita meninggalnya Uwais Al-Qarni dan keanehan-keanehan yang terjadi ketika wafatnya telah tersebar ke mana-mana. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya, siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni. Selama ini tidak ada orang yang mengetahui siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni disebabkan permintaan Uwais Al-Qarni sendiri kepada Khalifah Umar ra dan Ali ra, agar merahasiakan tentang dia. Barulah di hari wafatnya mereka mendengar sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi saw, bahwa Uwais Al-Qarni adalah penghuni langit.

Sumber: "Cerita ini diambil dari buku '20 Kisah Sahabat dan Thabiin' terbitan Qibla karangan Ummuthoriq el khanzo."
Subhanallah


Sumber: http://www.kisahinspirasi.com/2016/06/uwais-al-qorni-penghuni-langit.html

Wednesday, 4 January 2017

Harus Tahu! Ternyata Kasih Sayang Ibu Bikin Anak Lebih Cerdas


Kamu mungkin tahu kalau ibu merupakan sosok yang tak tergantikan. Tapi kamu mungkin hanya tahu bahwa ibu tak tergantikan karena kasih sayangnya kepada anak. Nyatanya, bukan hanya itu peran ibu dalam kehidupan anak. Ada banyak manfaat yang kamu dapat dari kasih sayang seorang ibu. Salah satu manfaat yang didapat anak dari kasih sayang seorang ibu adalah otak yang lebih besar dan cerdas.

Para peneliti dari Washington University School of Medicine melihat scan otak hampir seratus anak usia 7-10 tahun untuk mengetahui potensi depresi pada anak.

Hasilnya...

Anak-anak yang mendapatkan kasih sayang dan dukungan dari ibu, memiliki hippocampus lebih besar daripada mereka yang tidak mendapat kasih sayang dari ibu.

Hippocampus adalah bagian otak yang menaungi ingatan dan kemampuan belajar, yang mana berperan dalam pengembangan akademik dan kecerdasan anak secara umum.

Profesor psikiatris anak sekaligus penulis penelitian, Joan Luby, Ph.D., mengatakan bahwa penelitian mengungkapkan betapa pentingnya lingkungan keluarga yang baik, kasih sayang dan cinta yang diberikan ibu terhadap anak-anaknya
Kasih sayang ibu tak harus berasal dari ibu biologis, meski kedekatan emosional antara ibu biologis dan anak kandung memang lebih erat.

Kita semua berhutang budi pada ibu, bukan hanya karena ia melahirkan kita ke dunia, tapi karena mereka juga membantu membentuk seperti apa diri kita. Itulah mengapa, berterima kasih pada ibu sudah jadi kewajibanmu sebagai seorang anak.


Sumber : http://www.vemale.com

Tiada Tandingan, Ini Bukti Kasih Ibu Pada Anak Tak Pernah Pudar


Sejak dalam kandungan hingga lahir dan tumbuh dewasa, kamu akan menemui banyak orang. Tapi mungkin kamu tak akan bisa menemui sosok pengganti ibu, apalagi jika ibumu adalah sosok yang sangat berpengaruh dalam setiap perjalanan hidupmu.
Kasih Ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali bagai sang surya menyinari dunia
Ibu bisa jadi sosok yang mungkin paling tahu seluk-beluk dirimu seperti apa, sekaligus yang paling bisa memberimu kritik pedas hanya karena ia ingin yang segala hal terbaik untukmu. Sekian ilustrasi dari Lifehack.org ini mungkin salah satu contohnya, bagaimana bisa kasih ibu tak ada tandingannya.
Dialah yang pertama kali mensyukuri kelahiranmu dan keberadaanmu di dunia/copyright by lifehack.org
Dia yang paling khawatir dan peduli saat kamu sakit/copyright by lifehack.org


Hingga kamu dewasa, kamu akan tetap membutuhkannya/copyright by lifehack.org
Sedari kamu masih di dalam perutnya, cintanya mengalir begitu saja tanpa henti. Bahkan saat kamu sudah beranjak dewasa, hidup terpisah dan bisa menentukan pilihan hidupmu sendiri, kamu tak akan bisa mengganti rasa sayang yang ia tuang selama ini. Jadi, masihkah kamu meragukan cintanya?




Sumber: http://www.vemale.com/
Selengkapnya: http://www.vemale.com/relationship/keluarga/100401-tiada-tandingan-ini-bukti-kasih-ibu-pada-anak-tak-pernah-pudar.html

Monday, 2 January 2017

Hidup Itu Murah, yang Bikin Mahal Itu Gengsi

Sudah sering pastinya kita mendengar anjuran dan nasihat untuk selalu mensyukuri semua hal yang kita punya. Makin banyak bersyukur makin bahagialah kita. Hidup sederhana pun bisa membuat kita tetap bahagia. Asalkan kita tak selalu termakan ego apalagi gengsi belaka.

Setuju nggak sih kalau sebenarnya yang kita butuhkan adalah hal-hal yang sesuai kebutuhan? Tak perlu berlebihan, asal semuanya cukup untuk membuat kita menjalani hari dengan baik. Cuma masalahnya karena gengsi, terkadang kita membuat hidup kita berat sendiri. Kita jadi menuntut banyak hal, sampai akhirnya kita tak pernah merasa puas dengan semua yang kita punya.

Kita Jadi Lupa Akan Prioritas Hidup Kita yang Sebenarnya
Banyak hal, target, dan prioritas penting yang terlewat. Itu semua karena kita terlalu mementingkan diri sendiri. Terlalu mendahulukan ego dan gengsi ingin melakukan hal yang sebenarnya belum terlalu penting untuk hidup kita. Seperti beli tas mahal hingga puluhan juta hanya karena tak mau dianggap dipandang rendah oleh teman kita. Padahal sebenarnya yang kita butuhkan hanyalah benda yang fungsinya memang kita butuhkan. Akibatnya, pengeluaran bisa jadi tak terduga dan prioritas untuk membayar biaya sekolah anak misalnya jadi terbengkalai.

Menuruti Gengsi Itu Tak Akan Pernah Ada Habisnya
Sesuatu yang wajar dan alamiah memang saat seseorang ingin jadi lebih baik dan lebih unggul dari lainnya. Dan seringkali karena gengsi tak mau kalah dengan orang lain, kita jadi memaksakan diri melakukan sesuatu yang di luar batas kita. Hal itu pun tak akan langsung berhenti begitu saja. Kita jadi tak mau kalah dengan orang lain. Selalu saja ingin mengungguli orang lain meski sebenarnya kapasitas kita masih belum mumpuni.

Menuruti Gengsi Membuat Kita Lupa Diri

Karena hanya ingin meniru orang lain atau tak mau kalah dengan orang lain, kita jadi mengorbankan banyak hal. kita jadi lupa diri. Lebih memilih untuk memakai topeng agar mendapat pujian daripada jadi diri sendiri. Semakin lama dibiarkan, rasa gengsi itu bisa menguasai hidup kita seutuhnya. Menelan hidup kita bulat-bulat. Hanya karena ingin terlihat keren, kita menghalalkan segala cara untuk membeli barang-barang mewah misalnya. Padahal itu nantinya akan jadi masalah yang makin besar dan tak berkesudahan sehingga jadi bencana.

Kita Jadi Lupa Apa Itu Bersyukur





Tak pernah merasa puas, selalu menuruti gengsi, hingga akhirnya jadi lupa diri. Akibatnya kita makin lupa apa itu bersyukur. Tak pernah lagi kita sengaja meluangkan waktu untuk mengucap syukur. Bahagia yang dirasa hanyalah sesuatu yang semu.

Kalau menurutmu sendiri bagaimana? Benar nggak sih gengsi lah yang membuat kita jadi susah bahagia?

Yuk, mulai sekarang kita lebih bijak lagi mengatur prioritas. Memenuhi kebutuhan kita secukupnya. Serta menjalani hari-hari sesuai dengan kemampuan kita yang terbaik.


Sumber: http://www.vemale.com/

Jika Ingin Hidup Panjang Umur, Bahagia lah Dengan Hidupmu!

Ada banyak hal yang membuat hidup seseorang panjang umur, salah satunya adalah selalu berpikiran positif dan bahagia. Banyak orang mengatakan bahwa pikiran positif membantu menjaga tubuh sehat, mencegah stres, membuat tubuhmu bergerak aktif dan bahkan enak makan. 
Penelitian ilmiah yang dilakukan Andrew Steptoe dari University College of London mendukung pernyataan tersebut. Penelitian ini melihat hubungan antara merasa bahagia dan positif dengan kemungkinan panjang umur. Dalam penelitian yang diterbitkan dalam jurnal BMJ ini, ia mengamati 10 ribu pria dan wanita di Inggris dari tahun 2002-2013.
Selama waktu tersebut, para partisipan yang kebanyakan berusia paruh baya ini diminta menjawab empat pertanyaan mengenai bagaimana mereka menikmati hidup: bersosialisasi bersama orang-orang di sekitar mereka, melakukan berbagai hal, seberapa puas dan seberapa bersemangat setiap harinya.

Hampir tujuh tahun berselang, ternyata orang-orang yang mengatakan bahwa kehidupan mereka menyenangkan (atau merasa puas dengan kehidupan yang mereka jalani) ternyata 24% lebih panjang umur dan tidak mudah sakit dibanding mereka yang mengaku tidak begitu menikmati hidup. Mereka yang mengatakan bahwa hidup mereka bahagia dari dua kategori yang ditanyakan ternyata 17% lebih tinggi memiliki hidup panjang umur.

Andrew Steptoe mengatakan, "Semakin besar orang memandang kehidupan secara positif , semakin baik kesehatan dan probabilitas mereka hidup panjang umur. Menjaga pertemanan dan hubungan sosial yang baik dengan orang lain adalah investasi yang baik bagi kesehatan fisik maupun mental seseorang ".
Banyak penelitian lain yang juga menyimpulkan hal sama. Jadi, untuk hidup panjang umur, sebenarnya tidak susah memulainya. Cukup dengan memandang kehidupan dan segala hal yang terjadi dalam hidupmu secara positif, bersyukur lebih banyak dan merasa bahagia lah, maka kamu akan hidup lebih lama, ladies.



Sumber: http://www.vemale.com/
Selengkapnya: http://www.vemale.com/body-and-mind/segar-dan-rileks/100270-jika-ingin-hidup-panjang-umur-bahagia-lah-dengan-hidupmu.html

Marahnya Ibu Pada Anak Adalah Marah Karena Sayang & Cinta

Ibu merupakan sosok yang begitu dekat dengan anak. Bisa dipastikan bahwa setiap anak lebih dekat dengan ibunya jika dibandingkan dengan ayahnya. Karena anak umumnya sangat dekat dengan ibu, ketika ibu marah rasanya dunia menjadi berbeda. Saya sih menyebutnya dunia jadi lebih hampa.
Jika ayah yang marah tidak jarang anak akan lari ke ibu dan meminta nasehat terbaiknya. Tapi, saat ibu yang sedang marah, apa yang bisa dilakukan anak? Akankah ia berlari pada sang ayah? Bagi sebagian anak mungkin akan melakukan itu, tapi bagi anak lain justru akan merasa terpuruk dan kecewa. Terlebih ketika ayah jarang di rumah dan jarang berkomunikasi dengan anak.

Sikap marah tentunya bukan suatu sikap yang baik. Tapi, memarahi anak khususnya anak yang telah menginjak remaja sesekali memang diperlukan agar anak jera dan tidak mengulangi kesalahannya. Ibu yang marah-marah terhadap anak bukan berarti jahat dengan anak. Sebaliknya, ibu yang merasa marah karena anak melakukan kesalahan menunjukkan bahwa  beliau sangat menyayangi dan mencintai anak.

Ibu yang sayang dan cinta terhadap anak-anaknya pasti tak ingin anaknya terjebak dalam suatu masalah. Ketika anak melakukan kesalahan, ibulah sosok pertama yang akan merasa sangat khawatir dan cemas. Sekali dua kali anak melakukan kesalahan, ibu mungkin akan menasehati anak dengan kata-kata yang halus dan pelukan hangat. Tapi, jika kesalahan anak dilakukan berulang kali, perlu bagi seorang ibu untuk bersikap lebih tegas dan memarahi anak.

Buat kamu yang pernah dimarahi ibu di rumah karena alasan apapun, usahakan untuk senantiasa menerima kemarahan tersebut dengan sikap sabar. Percaya saja, saat ibu memarahimu, itu adalah bukti bahwa beliau sangat menyayangi dan mencintaimu. Marahnya seorang ibu kepada anak-anaknya selalu berlandaskan alasan yang jelas. Kalau memang anak tidak salah, tidak mungkin seorang ibu akan marah-marah.

Sementara bagi kamu yang telah menjadi ibu, boleh sesekali marah kepada buah hati. Tapi ingat Mom, jangan terlalu sering memarahinya karena sikap ini bisa membuat buah hati kehilangan rasa percaya diri, terpukul dan kecewa. Buah hati yang sering kali dimarahi juga akan rentan terhadap risiko depresi. Satu lagi, marah kepada anak jangan sampai dilakukan dengan memberi hukuman fisik atau melontarkan kata-kata kasar.

Walau sikap marah adalah sikap yang membuktikan Mom begitu sayang dan cinta terhadap anak, kalau Mom bisa menekan amarah, sangat disarankan agar Mom tak pernah marah pada anak. Memperlakukan anak dengan sabar, tulus dan lemah lembut justru akan membuat mereka tumbuh serta berkembang menjadi pribadi yang kuat, percaya diri serta jujur dan lemah lembut pula. 



Sumber: http://www.vemale.com

Selengkapnya
http://www.vemale.com/relationship/keluarga/100403-marahnya-ibu-pada-anak-adalah-marah-karena-sayang-cinta.html

Thursday, 29 December 2016

Seperti Udara, Tak Tampak Namun Selalu Ada Itulah Kasih Sayang Ibu

Kasihmu ibu sepanjang masa...
Seperti udara kasih yang kau berikan, tak mampu ku membalas.. ibu.. ibu

Meskipun Hari Ibu telah lewat beberapa hari lalu, entah kenapa tiba-tiba selalu terpikirkan tentang ibu yang sekarang lagi dirumah.

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintangan untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah penuh nanah
Seperti udara... kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas...ibu...ibu
Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas...ibu...ibu....
Seperti udara... kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas...ibu...ibu


Ketulusan dan kebaikan ibunda kepada anak-anaknya memang tak ternilai harganya, dan tak ada satupun yang bisa menggantikannya. Inilah yang membuat semua orang sulit mengungkapkan rasa cinta kepada sang bunda dengan kata-kata.

Jasa dan pengorbanan ibu sangat besar, jika disuruh berpikir dan menjelaskan sosok ibu kebanyakan orang akan kesulitan karena arti ibu sangat besar bagi mereka.

Cinta ibu Seperti Udara, Tak Tampak Namun Selalu Ada setiap saat dan setiap waktu. Bersyukurlah memiliki ibu yang bekerja keras untukmu tanpa pamrih sedikitpun.

Ibu tidak kenal yang namanya lelah untuk anak-anaknya apalagi mengeluh. Mulai dari masak, menyiapkan sarapan sarapan, antar jemput sekolah waktu kecil, padahal ia kerja juga. Itulah yang membuat semua orang menjadikan sang ibunda menjadi cinta pertama dalam hidupnya.

Masih ingatkah kala kita kecil??

Ketika lapar, tangan ibu yang menyuapi
Ketika haus, ibu yang memberi minuman
Ketika kita menangis, tangan ibu yang mengusap air mata
Ketika gembira, tangan ibu yang selalu menadah penuh syukur, memeluk kita erat dengan deraian air mata bahagia
Ketika kita mandi, tangan ibu yang meratakan air keseluruh tubuh, membersihkan segala kotoran dibadan.
Ketika dilanda masalah, tangan ibu yang pertama membelai duka sambil berkata sabar ya nak, sabar ya sayang

Tapi...

Ketika kita sudah dewasa, apa yang kita lakukan?
Kita selalu membentaknya, selalu membantahnya, selalu membuatnya kecewa hingga berlinang air matanya

Ketika ibu sudah tua dan kelaparan, tiada tangan dari anak yang menyuapi
Dengan tangan yang gemetar, ibu menyuapkan sendiri makanan ke mulutnya sambil berlinang air matanya
Ketika ibu sakit, dimana tangan anak yang ibu harapkan selalu memeluk erat dan menemani

Kasih ibu kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia


Semoga kasih & sayang kita kepada Ibu pun sepanjang masa
Love You Mom..
Teruntukmu wahai Ibunda tersayang dan tercinta
dari anakmu yang belum bisa membahagiakanmu

Tuesday, 27 December 2016

Selamat Ulang Tahun, Berkah Umurnya serta Barokah

 
Hari ini,
hari yang kau tunggu
Bertambah satu tahun, usiamu,
Bahagialah slalu
Yang kuberi, bukan jam dan cincin
Bukan seikat bunga, atau puisi,
Juga kalung hati
Maaf, bukannya pelit,
Atau nggak mau bermodal dikit
Yang ingin aku, beri padamu
Do'a s'tulus hati ...
Smoga Tuhan, melindungi kamu
Serta tercapai semua angan dan cita citamu
Mudah mudahan diberi umur panjang
Sehat selama lamanya..

Berkah umurnya
Berkah umurnya
Berkah umurnya
Serta Barokah
Serta Barokah
Serta Barokah

Kertas yang dahulu putih,
kini semakin penuh dengan cerita,
Memang dalam cerita ada coretan…
Coretan tersebut akan menjadi sebuah pengalaman yang indah
Manakala tertulis dengan sebuah ketulusan
Yang mana ketulusan akan menjadikan hal yang tak bisa terlupakan
Memang coretan itu akan mengubah cerita namun semoga tidak mengubah makna,

Semoga sehat selalu…
Berkah umurnya serta barokah

Semoga dengan bertambahnya usia, semakin sempurna iman dan akhlakmu...
Di hari yang sangat istimewa ini, ku panjatkan do'a...
Agar senantiasa Allah memberikan segala yang terbaik untukmu
Allah memberikan keberkahan dalam setiap langkahmu ke depan
Allah memberikan berkahnya dan hari ini merupakan titik awal kesuksesanmu
Bertambahnya usia semoga manjadikan langkahmu semakin ringan untuk beribadah,
Kebahagiaan untukmu selalu tercurah,
dan Allah menjadikanmu insan yang mulia penuh berkah
Amiin
Selamat ulang tahun yaaa...
Berkah umurnya
Berkah umurnya
Berkah umurnya
Serta Barokah
Serta Barokah
Serta Barokah

28 Desember
Wish You All The Best

Friday, 16 December 2016

Nikmat Mana Lagi Yang Kamu Dustakan???


Berapa harga oksigen kala seseorang berada dirumah sakit? Pastinya mahal, tak terhitung biaya yang bisa dikeluarkan. Tapi kala kita sehat kita menghirup udara secara gratisan yang telah Tuhan sediakan di alam ini.

Berapa harga seseorang transpalasi jantung ? pasti kisaran 50.000 sampai 100.000 saja, namun dalam hitungan dolar Amerika. Terkadang, kita sebagai manusia merasa tidak puas dengan apa yang telah Tuhan  berikan kepada kita di kala kita sehat.

Kala kita melihat seseorang  saudara yang menderita penyakit menahun, langka dan sulit disembuhkan, membawa kita untuk menemukan pemahaman bahwa hidup tidaklah semulus dan sesederhana yang selama ini dirasakan.

Bukan sekedar tidur, bangun, makan, bekerja, bermain dan tidur lagi. Namun, timbul perasaan bersyukur bahwa hidup yang telah dianugerahkan ternyata masih lebih baik. Setidaknya dalam satu dua hal, dibandingkan hidup yang harus dijalani oleh orang lain yang sepanjang hidupnya bergulat mencari kesembuhan dan berjuang untuk bertahan hidup.

Rasa sakit demi sakit yang selalu mereka rasakan yang disertai oleh kecemasan dan ketakutan akan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi. Ajal, kematian menghantui dan tak bisa melanjutkan hidupnya lagi.

Sejenak kala kita merenungkan hidup ini, Tuhan (Allah) telah mengingatkan manusia dalam firmannya yang suci yang berbunyi:,
 "Lalu nikmat mana lagi yang kamu dustakan?"

Tak ada satupun yang tahu kapan ajal menjemput, apalagi Sang Malaikat Pencabut Nyawa itu selalu dan selalu menghampiri kita setiap saat, dan siap mencabut nyawa kita setiap waktu.

Hormati dan hargai, lalu syukurilah semua yang telah Dia berikan dalam kehidupan kita.

Sebenarnya itulah yang ingin diteriakkan setiap sel-sel dalam tubuh manusia yang setiap detik bekerja sesuai fungsi dan tugasnya. Berusahalah selagi masih baik, berupayalah untuk sehat selama masih sehat dan berdoalah agar baik dan sehatpun selalu dialami oleh setiap sel yang ada di dalam tubuh ini.

Membuat seluruh sel – sel tubuh untuk selalu sehat, mungkin adalah sebuah keniscayaan. Tapi, memastikan kita menjaga seluruh sel tubuh selalu baik dan sehat untuk selamanya adalah sebuah kewajiban setiap manusia.
Bersyukur atas segala yang diberi, apapun yang telah, sedang dan akan terjadi adalah sebuah jalan mencari keseimbangan. Karena sakit dan sehat, hidup dan mati, adalah kodrat Tuhan dalam menyeimbangkan kehidupan. Sekaligus pengingat bahwa tiada yang selamanya kecuali diri-Nya.

 Yang perlu kita lakukan Adalah melakukan hal yang terbaik dan selalu menjadi lebih baik dari hari kehari,
"Barangsiapa yang harinya (hari ini) lebih baik dari sebelumnya, maka ia termasuk orang yang beruntung, barangsiapa yang hari ini sama seperti hari sebelumnya, maka ia termasuk orang yang merugi, dan barangsiapa yang hari ini lebih jelek dari hari sebelumnya, maka ia tergolong orang-orang yang terlaknat"
Mungkin sebuah lirik lagu ini bisa kita renungkan...
Demi masa sesungguhnya manusia kerugian
Melainkan yang beriman dan beramal sholeh
Demi masa sesungguhnya manusia kerugian
Melainkan nasehat kepada kebenaran dan kesabaran
Gunakan kesempatan yang masih diberi moga kita takkan menyesal
Masa usia kita jangan disiakan kerna ia takkan kembali
Ingat lima perkara sebelum lima perkara
Sehat sebelum sakit
Muda sebelum tua
Kaya sebelum miskin
Lapang sebelum sempit
Hidup sebelum mati
(Ingat lima perkara sebelum lima perkara)
(Ingat lima perkara sebelum lima perkara)
Demi masa sesungguhnya manusia kerugian
Melainkan yang beriman dan beramal sholeh
Gunakan kesempatan yang masih diberi moga kita takkan menyesal
Masa usia kita jangan disiakan kerna ia takkan kembali

Selalu bersyukur adalah kunci kebahagiaan, berusaha lebih baik dari waktu ke waktu adalah kunci kesuksesan.  Nikmat Mana Lagi Yang Kamu Dustakan???

Semoga bermanfaat

Tuesday, 13 December 2016

Saking Cintanya, Yahudi Ini Wafat di Makam Rasul

HARI Sabat, atau hari sabtu saat ini, adalah hari besar dimana para pengikuti ajaran Nabi Musa AS (yang kini dikenal sebagai kaum Yahudi) dilarang melakukan aktivitas apapun kecuali untuk beribadah, berzikir atau mempelajari kitab Taurat.

Suatu ketika, seorang lelaki Yahudi yang tinggal di Syam mengisi hari sabatnya untuk mempelajari kitab Taurat. Ia menemukan dalam Taurat tersebut ayat-ayat yang menyebutkan tentang sifat dan keadaan Nabi Muhammad SAW, Nabi yang diramalkan akan turun sebagai penutup para Nabi-nabi, sebanyak empat halaman. Ia segera memotong empat halaman Taurat tersebut dan membakarnya.

Saat itu memang Nabi SAW telah diutus dan telah tinggal di Madinah. Sementara itu, beberapa orang pemuka dan pendeta Yahudi telah melakukan “indoktrinasi” kepada jemaahnya bahwa Nabi Muhammad SAW adalah seorang pendusta. Jika ditemukan sifat dan cerita tentang dirinya dalam Taurat, mereka harus memotong dan membakarnya karena itu merupakan ayat-ayat tambahan dalam Taurat yang tidak benar. Lelaki Yahudidari Syam tersebut adalah satu anggota jemaah sekte ini.

Pada hari sabtu berikutnya, ia juga mengisi harinya dengan melakukan kajian terhadap Taurat, dan ia menemukan delapan halaman yang menyebutkan tentang keadaan dan sifat-sifat Nabi SAW. Seperti kejadian sebelumnya, ia memotong delapan halaman tersebut dan membakarnya.

Pada hari Sabtu berikutnya lagi, ia masih melakukan kajian terhadap Taurat, dan kali ini ia menemukan hal yang sama, bahkan ditambah dengan cerita tentang beberapa orang sahabat di sekitar beliau, dan ia menemukannya dalam 12 halaman. Kali ini ia tidak langsung memotongnya, tetapi ia berpikir dan berkata dalam hatinya, “Jika aku selalu memotong bagian seperti ini, bisa-bisa Taurat ini seluruhnya akan menyebutkan tentang sifat-sifat dan keadaan Muhammad..!!”

Tentu kita tidak tahu pasti, apakah memang kandungan Taurat seperti itu? Atau memang Allah SWT telah menggiring lelaki Yahudi kepada hidayah-Nya, sehingga setiap kali dipotong, akan muncul secara ajaib (mu’jizat) pada halaman lainnya, lebih banyak dan lebih lengkap tentang keadaan Nabi Muhammad SAW.

Tetapi, tiga kali pengalaman kajiannya tersebut telah memunculkan rasa penasaran dan keingintahuannya yang besar kepada Nabi SAW. Bahkan dengan tiga kali kajiannya tersebut, seakan-akan sifat-sifat dan keadaan beliau telah lekat di kepalanya, dan seperti mengenal beliau sangat akrab. Ia datang kepada kawan-kawan Yahudinya dan berkata,

“Siapakah Muhammad ini?”

“Ia seorang pembohong besar (yang tinggal di Madinah),” kata salah seorang temannya, “Lebih baik engkau tidak melihatnya, dan dia tidak perlu melihat engkau!!”

Tetapi lelaki Yahudi yang telah “melihat” dengan “ilmul yakin” tentang keadaan Nabi SAW ini, tampaknya tidak mudah begitu saja dipengaruhi teman-temannya. Seakan ada kerinduan menggumpal kepada sosok Muhammad yang belum pernah dikenal dan ditemuinya itu. Kerinduan yang memunculkan kegelisahan, yang tidak akan bisa hilang kecuali bertemu langsung dengan sosok imajinasi dalam pikirannya tersebut. Ia berkata dengan tegas, “Demi kebenaran Taurat (yang diturunkan kepada) Musa, janganlah kalian menghalangi aku untuk mengunjungi Muhammad!!”

Dengan tekad yang begitu kuatnya, mereka-pun tak mampu lagi menghalangi langkahnya untuk bertemu dengan Nabi SAW di Madinah. Lelaki Yahudi ini mempersiapkan kendaraan dan perbekalannya dan langsung memacunya mengarungi padang pasir tanpa menunda-nundanya lagi. Beberapa hari berjalan, siang dan malam terus saja berjalan, hingga akhirnya ia memasuki kota Madinah.

Orang pertama yang bertemu dengannya adalah Sahabat Salman al Farisi. Karena Salman berwajah tampan, dan mirip gambaran yang diperolehnya dalam Taurat, ia berkata, “Apakah engkau Muhammad?”

Salman tidak segera menjawab, bahkan segera saja ia menangis mendapat pertanyaan tersebut, sehingga membuat lelaki Yahudi ini terheran-heran. Kemudian Salman berkata, “Saya adalah pesuruhnya!”

Memang, hari itu telah tiga hari Nabi SAW wafat dan jenazah beliau baru dimakamkan kemarinnya, sehingga pertanyaan seperti itu mengingatkannya kepada beliau dan membuat Salman menangis. Kemudian lelaki Yahudi itu berkata, “Dimanakah Muhammad?”

Salman berpikir cepat, kalau ia berkata jujur bahwa Nabi SAW telah wafat, mungkin lelaki ini akan pulang, tetapi kalau ia berkata masih hidup, maka ia berbohong. Maka Salman-pun berkata, “Marilah aku antar engkau kepada sahabat-sahabat beliau!”

Salman membawa lelaki Yahudi tersebut ke masjid, di sana para sahabat tengah berkumpul dalam keadaan sedih. Ketika tiba di pintu masjid, lelaki Yahudi ini berseru agak keras, “Assalamu’alaika, ya Muhammad!”

Ia mengira Nabi SAW ada di antara kumpulan para sahabat tersebut, tetapi sekali lagi ia melihat reaksi yang mengherankan. Beberapa orang pecah tangisnya, beberapa lainnya makin sesenggukan dan kesedihan makin meliputi wajah-wajah mereka. Salah seorang sahabat berkata, “Wahai orang asing, siapakah engkau ini? Sungguh engkau telah memperbaharui luka hati kami! Apakah kamu belum tahu bahwa beliau telah wafat tiga hari yang lalu?”

Seketika lelaki Yahudi tersebut berteriak penuh kesedihan, “Betapa sedih hariku, betapa sia-sia perjalananku! Aduhai, andai saja ibuku tidak pernah melahirkan aku, andai saja aku tidak pernah membaca Taurat dan mengkajinya, andai saja dalam membaca dan mengkaji Taurat aku tidak pernah menemukan ayat-ayat yang menyebutkan sifat-sifat dan keadaannya, andai saja aku bertemu dengannya setelah aku menemukan ayat-ayat Taurat tersebut.(tentu tidak akan sesedih ini keadaanku)!”

Lelaki Yahudi tersebut menangis tersedu, tenggelam dalam kesedihannya sendiri. Seakan seperti teringat sesuatu, tiba-tiba ia berkata, “Apakah Ali berada di sini, sehingga ia bisa menyebutkan sifat-sifatnya kepadaku!”

“Ada,” Kata Ali bin Abi Thalib sambil mendekat kepada lelaki Yahudi tersebut.

“Aku menemukan namamu tercantum dalam kitab Taurat bersama Muhammad, tolong engkau ceritakan padaku ciri-ciri beliau!”

Ali bin Abi Thalib berkata, “Rasulullah SAW itu tidak tinggi dan tidak pendek, kepalanya bulat, dahinya lebar, kedua matanya tajam, kedua alisnya tebal. Bila beliau tertawa, keluar cahaya dari sela-sela giginya, dadanya berbulu, telapak tangannya berisi, telapak kakinya cekung, lebar langkahnya, dan di antara dua belikat beliau ada tanda khatamun nubuwwah!!”

“Engkau benar, wahai Ali,” Kata lelaki Yahudi tersebut, “Seperti itulah ciri-ciri Nabi Muhammad yang disebutkan dalam Kitab Taurat. Apakah masih ada sisa baju beliau sehingga aku bisa menciumnya?”

“Ada!” Kata Ali, kemudian ia meminta tolong kepada Salman untuk mengambil jubah beliau yang disimpan Fathimah az Zahrah, istrinya dan putri kesayangan Nabi SAW.

Salman segera bangkit menuju tempat kediaman Fathimah. Di depan pintu rumahnya, ia mendengar tangisan Hasan dan Husain, cucu kecintaan Rasulullah SAW. Sambil mengetuk pintu, Salman berkata, “Wahai tempat kebanggaan para nabi, wahai tempat hiasan para wali!!”

“Siapakah yang mengetuk pintu orang yatim!” Fathimah menyahut dari dalam.

“Saya, Salman” Kata Salman, kemudian ia menyebutkan maksud kedatangannya sesuai yang dipesankan oleh Ali.

“Siapakah yang akan memakai jubah ayahku?” Kata Fathimah sambil menangis.

Salman menceritakan peristiwa berkaitan dengan lelaki Yahudi tersebut, lalu Fathimah mengeluarkan jubah Rasulullah SAW, yang terdapat tujuh tambalan dengan tali serat kurma, dan menyerahkannya kepada Salman. Ia membawa jubah tersebut ke masjid dan menyerahkannya kepada Ali. Ali menerima jubah tersebut dan menciumnya, sembab matanya karena haru dan tangis. Jubah Rasulullah SAW tersebut beredar dari satu sahabat ke sahabat lainnya yang hadir, mereka menciumnya dan banyak yang menangis karena haru dan rindu kepada Nabi SAW, dan terakhir jatuh ke tangan lelaki Yahudi tersebut.

Lelaki Yahudi ini mencium dan mendekap erat jubah Nabi SAW dan berkata, “Betapa harumnya jubah ini!!”

Dengan tetap mendekap jubah tersebut, lelaki Yahudi ini mendekat ke makam Rasulullah SAW, kemudian menengadahkan kepalanya ke langit dan berkata, “Wahai Tuhanku, saya bersaksi bahwa Engkau adalah Zat yang Esa, Tunggal dan tempat bergantung (Ash Shomad). Dan saya bersaksi bahwa orang yang berada di kubur ini adalah Rasul-Mu dan kekasih-Mu. Saya membenarkan segala apa yang ia ajarkan! Wahai Allah, jika Engkau menerima keislamanku, maka cabutlah nyawaku sekarang juga..!!”

Tak lama kemudian lelaki Yahudi tersebut terkulai jatuh dan meninggal dunia. Ali dan para sahabat lainnya segera memandikan dan mengurus jenazah lelaki Yahudi, yang telah menjadi muslim tersebut, dan memakamkannya di Baqi’.

Lelaki Yahudi ini bukanlah termasuk sahabat Nabi SAW, tetapi kecintaan dan kerinduannya kepada Nabi SAW tak kalah dengan para sahabat lainnya, walau ia belum pernah bertemu langsung dengan beliau. Pantaslah kalau ia dimakamkan di Baqi’ disandingkan dengan para sahabat beliau lainnya. []

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2344487/saking-cintanya-yahudi-ini-wafat-di-makam-rasul#sthash.YfZv77r6.dpuf


Sumber: porsiwp.eumroh.com